Kandung Kemih dan Saluran Kemih

Retensi Urine

Retensi urine akut adalah ketidakmampuan mendadak untuk berkemih meski kandung kemih penuh dan merupakan keadaan darurat. Bentuk kronis dapat hanya memberi aliran lemah, harus mengejan, sering kencing sedikit, rasa belum kosong atau urine bocor karena kandung kemih terlalu penuh.

SehatKita · kurasi berbantuan AIDiperbarui: 20 Agustus 20262 menit

Disusun dengan bantuan Claude dari sumber web. Belum ditinjau oleh tenaga medis. Proses editorial

Ilustrasi editorial untuk artikel Retensi Urine

Sumbatan atau kontraksi kandung kemih dapat gagal

Pembesaran prostat, urethral stricture, prolapse, batu, massa, bekuan dan konstipasi dapat menghalangi aliran. Diabetes, multiple sclerosis, Parkinson, stroke, spinal injury, childbirth dan overdistension memengaruhi saraf/otot. Antihistamin, decongestant, anticholinergic, sebagian antidepressant/antipsychotic, opioid dan anesthesia dapat memicu—jangan menghentikan resep sendiri.

Bladder scan mengukur sisa urine

Pemeriksaan menilai perut, saraf, pelvis/prostat dan obat. Setelah berkemih, ultrasound portable atau kateter mengukur post-void residual; urine mencari infeksi/darah, darah menilai ginjal/electrolyte. Ultrasound, cystoscopy, urodynamic atau imaging tulang belakang dipilih sesuai penyebab. Satu angka residual ditafsirkan bersama gejala dan risiko.

Tidak bisa kencing adalah keadaan daruratKe IGD bila tiba-tiba tidak dapat berkemih, terutama dengan nyeri/bengkak perut bawah. Panggil bantuan untuk retensi disertai nyeri punggung, mati rasa area pelana, kedua kaki lemah atau hilang kontrol BAB—dapat menandakan cauda equina. Demam/menggigil dan nyeri pinggang juga mendesak.

Retensi akut dikosongkan segera

Kateter melalui uretra atau suprapubic mengalirkan urine, mengurangi nyeri dan melindungi ginjal; volume, darah dan produksi urine setelah drainage dipantau. Kesulitan memasang kateter memerlukan urologi—jangan memaksa. Alpha blocker, obat/prosedur prostat, dilation stricture, pessary/prolapse repair, terapi pelvic floor atau intermittent self-catheterization dipilih berdasarkan penyebab.

Komplikasi dapat tersembunyi

Retensi kronis meningkatkan UTI, batu, overflow incontinence, kerusakan kandung kemih dan hydronephrosis/ginjal. Timed/double voiding dapat membantu pada sebagian kasus setelah evaluasi; jangan mengurangi cairan berlebihan atau menekan perut kuat. Catat pola, obat OTC, konstipasi dan operasi baru. Demam dengan kateter, urine keruh/bau saja tidak selalu berarti antibiotik—perlu gejala dan tes.

Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada NIDDK — urinary retention symptoms and causes, NIDDK — urinary retention treatment. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.