Sumbatan atau kontraksi kandung kemih dapat gagal
Pembesaran prostat, urethral stricture, prolapse, batu, massa, bekuan dan konstipasi dapat menghalangi aliran. Diabetes, multiple sclerosis, Parkinson, stroke, spinal injury, childbirth dan overdistension memengaruhi saraf/otot. Antihistamin, decongestant, anticholinergic, sebagian antidepressant/antipsychotic, opioid dan anesthesia dapat memicu—jangan menghentikan resep sendiri.
Bladder scan mengukur sisa urine
Pemeriksaan menilai perut, saraf, pelvis/prostat dan obat. Setelah berkemih, ultrasound portable atau kateter mengukur post-void residual; urine mencari infeksi/darah, darah menilai ginjal/electrolyte. Ultrasound, cystoscopy, urodynamic atau imaging tulang belakang dipilih sesuai penyebab. Satu angka residual ditafsirkan bersama gejala dan risiko.
Retensi akut dikosongkan segera
Kateter melalui uretra atau suprapubic mengalirkan urine, mengurangi nyeri dan melindungi ginjal; volume, darah dan produksi urine setelah drainage dipantau. Kesulitan memasang kateter memerlukan urologi—jangan memaksa. Alpha blocker, obat/prosedur prostat, dilation stricture, pessary/prolapse repair, terapi pelvic floor atau intermittent self-catheterization dipilih berdasarkan penyebab.
Komplikasi dapat tersembunyi
Retensi kronis meningkatkan UTI, batu, overflow incontinence, kerusakan kandung kemih dan hydronephrosis/ginjal. Timed/double voiding dapat membantu pada sebagian kasus setelah evaluasi; jangan mengurangi cairan berlebihan atau menekan perut kuat. Catat pola, obat OTC, konstipasi dan operasi baru. Demam dengan kateter, urine keruh/bau saja tidak selalu berarti antibiotik—perlu gejala dan tes.
Informasi dalam artikel ini merujuk pada NIDDK — urinary retention symptoms and causes, NIDDK — urinary retention treatment. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.



