Mengapa perempuan jauh lebih sering terkena sistitis dibanding laki-laki
Perbedaan anatomi yang sederhana menjelaskan sebagian besar kesenjangan ini: uretra perempuan hanya sekitar 4 cm, jauh lebih pendek dibanding uretra laki-laki yang sekitar 20 cm, sehingga bakteri dari daerah sekitar anus dan vagina memiliki jarak jauh lebih pendek untuk mencapai kandung kemih. Letak muara uretra perempuan yang berdekatan dengan anus dan vagina juga membuat bakteri usus seperti E. coli—penyebab sekitar separuh kasus infeksi kandung kemih—lebih mudah berpindah ke area sekitar uretra, terutama setelah hubungan seksual atau kebiasaan membersihkan dari arah belakang ke depan.
Kombinasi faktor anatomi ini membuat perempuan mengalami infeksi saluran kemih hingga sekitar 30 kali lebih sering dibanding laki-laki sepanjang hidup, dengan lebih dari separuh perempuan mengalami setidaknya satu episode sistitis dalam hidupnya, dibanding hanya sekitar 10-12% laki-laki. Inilah sebabnya sistitis pada laki-laki, terutama yang berulang, lebih sering dianggap perlu evaluasi tambahan untuk mencari penyebab yang mendasari seperti pembesaran prostat atau kelainan struktur saluran kemih, karena anatomi laki-laki secara alami jauh lebih protektif terhadap infeksi naik dari luar.
Gejala dan penyebab lain
Darah ringan, bau urine, atau rasa belum tuntas dapat menyertai. Keputihan, gatal, luka genital, IMS, batu, atrofi menopause, obat, radiasi, dan interstitial cystitis dapat menyerupai. Bau urine saja tanpa gejala tidak memastikan infeksi.
Pemeriksaan
Urinalisis dan kultur dipilih berdasarkan gejala, kehamilan, jenis kelamin, usia, kekambuhan, demam, dan risiko resistensi. Pria, anak, ibu hamil, pasien kateter, batu, gangguan ginjal, atau imunitas lemah memerlukan evaluasi lebih terarah. Tes IMS dilakukan sesuai paparan.
Pengobatan
Antibiotik dipilih dari pola lokal, alergi, kehamilan, ginjal, kultur, dan lokasi infeksi; habiskan sesuai resep. Cairan cukup dan analgesik membantu, tetapi produk cranberry atau alkalinisasi tidak menggantikan antibiotik bila infeksi bakteri. Jangan memakai sisa obat karena dosis dan resistensi berbeda.
Mencegah berulang
Jangan menahan kencing, cukup minum sesuai kondisi, berkemih setelah seks bila membantu, hindari spermisida bila memicu, dan tangani atrofi menopause. Infeksi berulang perlu kultur serta strategi individual; antibiotik pencegahan hanya setelah menimbang resistensi dan efek samping.
Informasi dalam artikel ini merujuk pada NIDDK, StatPearls — Uncomplicated Urinary Tract Infections. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.



