Beranda/Kanker/Human Papillomavirus (HPV)

Kesehatan Seksual dan Kanker

Human Papillomavirus (HPV)

HPV adalah kelompok lebih dari 200 virus yang menular terutama melalui kontak kulit-ke-kulit seksual. Sebagian besar infeksi hilang sendiri, tetapi infeksi menetap oleh tipe berisiko tinggi dapat menyebabkan kanker serviks, anus, penis, vulva, vagina, dan tenggorokan.

SehatKita · kurasi berbantuan AIDiperbarui: 7 September 20263 menit

Disusun dengan bantuan Claude dari sumber web. Belum ditinjau oleh tenaga medis. Proses editorial

Ilustrasi editorial untuk artikel Human Papillomavirus (HPV)

Bagaimana virus ini bisa memicu kanker

Dari sekitar 200 jenis HPV yang diketahui, hanya 12 tipe yang tergolong risiko tinggi untuk kanker, dengan HPV tipe 16 dan 18 sebagai yang paling berbahaya. Pada infeksi yang menetap, virus ini memproduksi dua protein bernama E6 dan E7 yang bekerja merusak sistem pertahanan alami sel: E6 menghancurkan protein p53 yang seharusnya menghentikan sel rusak agar tidak membelah, sementara E7 melumpuhkan protein Rb yang mengerem siklus pembelahan sel. Ketika kedua rem ini lumpuh bersamaan, sel yang terinfeksi dapat membelah tanpa kendali dan lama-kelamaan berubah menjadi kanker.

Karena HPV menular lewat kontak kulit di area genital, anus, dan mulut-tenggorokan, virus ini dapat memicu kanker di berbagai lokasi, bukan hanya serviks: HPV bertanggung jawab atas sekitar 91% kanker serviks, 91% kanker anus, 70% kanker orofaring (pangkal lidah dan amandel), 75% kanker vagina, dan 69% kanker vulva. Inilah mengapa vaksinasi HPV memberi perlindungan yang jauh lebih luas daripada sekadar mencegah kanker serviks semata.

Infeksi sering tanpa gejala

Kutil kelamin biasanya berasal dari tipe risiko rendah dan berbeda dari tipe utama penyebab kanker. Tes positif tidak menunjukkan kapan atau dari siapa infeksi didapat; HPV dapat baru terdeteksi setelah bertahun-tahun dan bukan bukti perselingkuhan.

Perdarahan atau lesi menetap perlu diperiksaSegera periksa perdarahan setelah hubungan atau setelah menopause, benjolan atau luka genital dan anus yang tidak sembuh, sulit menelan atau suara serak menetap, darah pada tinja, atau penurunan berat tanpa sebab.

Vaksin mencegah, bukan mengobati

Vaksin HPV paling efektif sebelum paparan seksual dan menjadi prioritas pada usia sekolah sesuai program nasional, tetapi beberapa orang yang lebih tua juga dapat memperoleh manfaat menurut usia dan risiko. Vaksin tidak menghilangkan infeksi atau kutil yang sudah ada.

Skrining tetap diperlukan

Orang dengan serviks mengikuti jadwal skrining nasional menggunakan tes HPV, sitologi, atau metode lain menurut usia dan kondisi, termasuk bila sudah divaksin. Hasil positif tidak otomatis berarti kanker; tindak lanjut menentukan apakah perlu pengulangan, kolposkopi, atau terapi prakanker.

Kurangi risiko

Kondom menurunkan tetapi tidak menghapus risiko karena kulit di luar area kondom dapat terpapar. Berhenti merokok, vaksinasi, skrining, dan pengobatan lesi prakanker mencegah komplikasi. Tidak ada obat yang membersihkan virus; kutil dan perubahan sel dapat diterapi.

Mencari bantuan di IndonesiaTanyakan jadwal vaksin HPV dan skrining serviks di Puskesmas sesuai program Kemenkes. Jangan menunda pemeriksaan karena malu; layanan kesehatan wajib menjaga kerahasiaan.
Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada WHO, NCI — HPV and Cancer. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.