Beranda/Tulang, Otot, dan Sendi/Frozen Shoulder (Adhesive Capsulitis)

Tulang dan Sendi

Frozen Shoulder (Adhesive Capsulitis)

Frozen shoulder menyebabkan nyeri dan kekakuan karena kapsul sendi bahu menebal dan mengencang. Gerak yang dilakukan sendiri maupun dibantu sama-sama terbatas, dan pemulihan dapat berlangsung lama.

SehatKita · kurasi berbantuan AIDiperbarui: 7 September 20262 menit

Disusun dengan bantuan Claude dari sumber web. Belum ditinjau oleh tenaga medis. Proses editorial

Ilustrasi editorial untuk artikel Frozen Shoulder (Adhesive Capsulitis)

Mengapa diabetes meningkatkan risiko hingga hampir 4 kali lipat

Frozen shoulder memengaruhi sekitar 2-5% populasi umum, tetapi melonjak menjadi 13-30% pada penderita diabetes—dengan risiko keseluruhan sekitar 3,7 kali lebih tinggi, dan hingga 36% pada penderita diabetes yang bergantung insulin. Mekanismenya melibatkan proses dua tahap: peradangan awal pada kapsul sendi bahu memicu nyeri dan keterbatasan gerak, kemudian sel fibroblast yang teraktivasi mulai memproduksi kolagen berlebihan yang menebalkan dan mengencangkan kapsul sendi (fibrosis)—persis seperti jaringan parut yang terbentuk berlebihan pada luka.

Pada penderita diabetes, gula darah tinggi kronis mempercepat penumpukan zat yang disebut advanced glycation end products pada jaringan ikat, membuat kolagen menjadi lebih kaku dan lebih rentan terhadap fibrosis berlebih—sementara kerusakan pembuluh darah kecil akibat diabetes (mikroangiopati) turut mengurangi aliran darah ke kapsul sendi, memperlambat perbaikan jaringan dan memperberat proses fibrosis. Inilah mengapa kontrol gula darah bukan sekadar saran umum, melainkan bagian nyata dari penanganan frozen shoulder pada pasien diabetes—dan mengapa sebagian ahli kini menganjurkan skrining HbA1c pada kasus frozen shoulder tanpa riwayat cedera yang jelas.

Tahapan dan faktor risiko

Fase freezing ditandai nyeri dan gerak yang makin berkurang, fase frozen lebih kaku meski nyeri dapat mereda, lalu fase thawing saat gerak perlahan kembali. Risiko meningkat pada diabetes, gangguan tiroid, dan setelah bahu lama tidak bergerak akibat cedera atau operasi.

Tidak semua nyeri bahu adalah frozen shoulderKe IGD bila nyeri bahu disertai nyeri dada, sesak, keringat dingin, kelemahan mendadak, atau setelah cedera berat. Periksa segera bila demam, sendi merah-panas, mati rasa, atau lengan tidak dapat digerakkan mendadak.

Pastikan diagnosis

Pemeriksaan membandingkan gerak aktif dan pasif serta menilai leher, kekuatan, dan saraf. Rontgen membantu menyingkirkan artritis atau tulang, sedangkan USG atau MRI digunakan bila dicurigai robekan rotator cuff atau penyebab lain; bukan selalu wajib.

Terapi bertahap

Obat nyeri yang aman, latihan rentang gerak lembut, dan fisioterapi menjadi dasar. Suntikan kortikosteroid ke sendi dapat membantu nyeri dan gerak pada sebagian pasien, terutama lebih awal. Kontrol gula darah dan gangguan tiroid juga penting.

Bila tetap berat

Hydrodilatation, manipulasi dengan anestesi, atau pelepasan kapsul artroskopik dapat dipertimbangkan bila terapi konservatif gagal. Latihan setelah prosedur diperlukan untuk mempertahankan gerak. Jangan memaksa bahu agresif hingga nyeri tajam.

Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada AAOS OrthoInfo, Adhesive Capsulitis (StatPearls), The diabetic shoulder: association between diabetes and adhesive capsulitis (International Orthopaedics). Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.