Infeksi dan Imunisasi

Difteri

Difteri adalah infeksi menular oleh bakteri penghasil toksin. Selaput putih atau abu-abu dapat menyumbat jalan napas, sementara toksin dapat merusak jantung dan saraf; kecurigaan klinis memerlukan penanganan segera tanpa menunggu hasil laboratorium.

SehatKita · kurasi berbantuan AIDiperbarui: 8 September 20263 menit

Disusun dengan bantuan Claude dari sumber web. Belum ditinjau oleh tenaga medis. Proses editorial

Ilustrasi editorial untuk artikel Difteri

Mengapa toksinnya berbahaya bahkan setelah bakteri hilang

Bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menghasilkan toksin melepaskan racun yang bekerja dengan menghentikan pabrik protein di dalam sel tubuh: toksin ini menempel pada satu bagian protein bernama elongation factor 2 (EF-2) yang seharusnya membantu sel merangkai protein, lalu merusaknya sehingga sel benar-benar berhenti memproduksi protein dan akhirnya mati. Di tenggorokan, kematian sel-sel ini bercampur dengan fibrin, sel darah, dan sisa bakteri membentuk selaput tebal berwarna abu-abu (pseudomembran) yang melekat erat dan dapat meluas menutup jalan napas — inilah mengapa selaput ini tidak boleh dikerok paksa, karena mengelupasnya bisa memicu perdarahan dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher yang menghasilkan tampilan leher membengkak seperti "leher banteng" (bull neck).

Yang membuat difteri sangat berbahaya adalah toksin ini ikut menyebar lewat aliran darah ke jantung dan saraf, biasanya muncul 1-2 minggu setelah gejala tenggorokan mulai membaik — saat keluarga mengira pasien sudah pulih. Kerusakan otot jantung (miokarditis) akibat toksin ini adalah penyebab kematian tersering pada difteri, bertanggung jawab atas sekitar 50-75% kematian pada fase akut, sering berupa gangguan irama jantung yang muncul mendadak. Karena antitoksin hanya bisa menetralkan toksin yang belum menempel ke sel, bukan membalikkan kerusakan yang sudah terjadi, pemberian secepat mungkin begitu difteri dicurigai jauh lebih menentukan hasil akhir dibanding menunggu konfirmasi laboratorium.

Gejala

Keluhan biasanya berkembang perlahan dengan sakit tenggorokan, demam ringan, lemah, suara serak, kelenjar atau leher membengkak, dan selaput tebal di hidung atau tenggorokan. Selaput tidak boleh dikerok paksa karena dapat berdarah dan memperburuk sumbatan.

Difteri adalah kegawatdaruratan dan risiko wabahJangan datang ke ruang tunggu tanpa pemberitahuan. Hubungi fasilitas terlebih dahulu, gunakan masker bila memungkinkan, dan ke IGD untuk sulit bernapas atau menelan, ngiler, suara napas keras, leher cepat membesar, berdebar, atau kelemahan.

Tindakan segera

Pasien dicurigai perlu isolasi, pengambilan sampel, antitoksin untuk menetralisir toksin yang belum terikat, serta antibiotik untuk menghilangkan bakteri dan mengurangi penularan. Antitoksin tidak membalikkan kerusakan yang sudah terjadi, sehingga waktu sangat penting.

Kontak dan komplikasi

Kontak erat perlu dinilai, dikultur atau diberi antibiotik dan imunisasi sesuai protokol kesehatan. Pasien dipantau untuk gangguan jalan napas, irama atau otot jantung, kelemahan saraf, menelan, ginjal, dan perdarahan; komplikasi dapat muncul setelah tenggorokan membaik.

Imunisasi

Vaksin difteri diberikan sebagai seri dasar dan booster karena perlindungan menurun seiring waktu. Pernah sakit tidak menjamin kebal, sehingga imunisasi tetap dilengkapi setelah pulih. Status imunisasi seluruh keluarga harus diperiksa saat ada kasus.

Mencari bantuan di IndonesiaPuskesmas mengoordinasikan pelacakan kontak dan imunisasi. Bawa buku KIA atau catatan vaksin; jangan menunda karena merasa pernah mendapat vaksin saat kecil.
Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada WHO, StatPearls — Diphtheria, PMC — Diphtheria's Dual Threat: Cardiac Complications. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.