Mengapa toksinnya berbahaya bahkan setelah bakteri hilang
Bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menghasilkan toksin melepaskan racun yang bekerja dengan menghentikan pabrik protein di dalam sel tubuh: toksin ini menempel pada satu bagian protein bernama elongation factor 2 (EF-2) yang seharusnya membantu sel merangkai protein, lalu merusaknya sehingga sel benar-benar berhenti memproduksi protein dan akhirnya mati. Di tenggorokan, kematian sel-sel ini bercampur dengan fibrin, sel darah, dan sisa bakteri membentuk selaput tebal berwarna abu-abu (pseudomembran) yang melekat erat dan dapat meluas menutup jalan napas — inilah mengapa selaput ini tidak boleh dikerok paksa, karena mengelupasnya bisa memicu perdarahan dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher yang menghasilkan tampilan leher membengkak seperti "leher banteng" (bull neck).
Yang membuat difteri sangat berbahaya adalah toksin ini ikut menyebar lewat aliran darah ke jantung dan saraf, biasanya muncul 1-2 minggu setelah gejala tenggorokan mulai membaik — saat keluarga mengira pasien sudah pulih. Kerusakan otot jantung (miokarditis) akibat toksin ini adalah penyebab kematian tersering pada difteri, bertanggung jawab atas sekitar 50-75% kematian pada fase akut, sering berupa gangguan irama jantung yang muncul mendadak. Karena antitoksin hanya bisa menetralkan toksin yang belum menempel ke sel, bukan membalikkan kerusakan yang sudah terjadi, pemberian secepat mungkin begitu difteri dicurigai jauh lebih menentukan hasil akhir dibanding menunggu konfirmasi laboratorium.
Gejala
Keluhan biasanya berkembang perlahan dengan sakit tenggorokan, demam ringan, lemah, suara serak, kelenjar atau leher membengkak, dan selaput tebal di hidung atau tenggorokan. Selaput tidak boleh dikerok paksa karena dapat berdarah dan memperburuk sumbatan.
Tindakan segera
Pasien dicurigai perlu isolasi, pengambilan sampel, antitoksin untuk menetralisir toksin yang belum terikat, serta antibiotik untuk menghilangkan bakteri dan mengurangi penularan. Antitoksin tidak membalikkan kerusakan yang sudah terjadi, sehingga waktu sangat penting.
Kontak dan komplikasi
Kontak erat perlu dinilai, dikultur atau diberi antibiotik dan imunisasi sesuai protokol kesehatan. Pasien dipantau untuk gangguan jalan napas, irama atau otot jantung, kelemahan saraf, menelan, ginjal, dan perdarahan; komplikasi dapat muncul setelah tenggorokan membaik.
Imunisasi
Vaksin difteri diberikan sebagai seri dasar dan booster karena perlindungan menurun seiring waktu. Pernah sakit tidak menjamin kebal, sehingga imunisasi tetap dilengkapi setelah pulih. Status imunisasi seluruh keluarga harus diperiksa saat ada kasus.
Informasi dalam artikel ini merujuk pada WHO, StatPearls — Diphtheria, PMC — Diphtheria's Dual Threat: Cardiac Complications. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.



