Beranda/Kanker/Kanker Serviks (Kanker Leher Rahim)

Kanker Ginekologi

Kanker Serviks (Kanker Leher Rahim)

Hampir semua kanker serviks disebabkan infeksi HPV risiko tinggi yang menetap. Vaksinasi dan skrining dapat mencegah sebagian besar kasus dengan menemukan perubahan prakanker; Pap atau HPV abnormal bukan diagnosis kanker dan perlu tindak lanjut sesuai hasil.

SehatKita · kurasi berbantuan AIDiperbarui: 8 September 20262 menit

Disusun dengan bantuan Claude dari sumber web. Belum ditinjau oleh tenaga medis. Proses editorial

Ilustrasi editorial untuk artikel Kanker Serviks (Kanker Leher Rahim)

Mengapa hampir selalu berawal dari HPV

Sistem imun berhasil membersihkan sebagian besar infeksi HPV dalam 8-10 bulan tanpa masalah, tetapi pada sekitar 10-15% orang, infeksi HPV risiko tinggi menetap bertahun-tahun. Selama menetap, virus menyisipkan materi genetiknya ke sel dan melumpuhkan protein pengatur pembelahan sel (p53 dan Rb) lewat protein virus E6 dan E7, sehingga sel leher rahim berubah bertahap dari sel normal menjadi prakanker lalu kanker invasif selama bertahun-tahun.

Proses bertahap inilah yang membuat kanker serviks salah satu kanker paling dapat dicegah: sekitar 95% kasus disebabkan HPV risiko tinggi yang menetap, dengan HPV 16 dan 18 saja bertanggung jawab atas lebih dari 70% kasus dunia. Karena perubahan sel berlangsung perlahan sebelum menjadi kanker, skrining rutin dapat menangkap perubahan prakanker jauh sebelum muncul gejala.

Gejala dan skrining

Kanker awal sering tanpa gejala. Perdarahan setelah hubungan, di antara haid, setelah menopause, cairan berbau atau berdarah, nyeri panggul, dan nyeri saat berhubungan perlu dinilai. Skrining mengikuti usia dan pedoman nasional menggunakan HPV, Pap, atau kombinasi; vaksin tidak menghapus kebutuhan skrining.

Perdarahan berat atau sumbatan ginjal perlu segera ditanganiKe IGD bila perdarahan memenuhi pembalut berulang, pusing atau pingsan, nyeri panggul hebat, demam dengan cairan berbau, urine sangat sedikit, tungkai bengkak mendadak, sesak, atau demam saat neutropenia.

Diagnosis

Hasil skrining abnormal ditindaklanjuti dengan kolposkopi, biopsi, dan kadang eksisi. Diagnosis kanker harus berdasarkan jaringan. Pemeriksaan panggul, MRI, CT atau PET-CT, serta fungsi ginjal membantu stadium dan perencanaan. HPV positif umum dan tidak menunjukkan kapan atau dari siapa penularan terjadi.

Terapi

Lesi prakanker ditangani ablasi atau eksisi terpilih. Kanker sangat dini dapat memakai konisasi atau operasi yang mempertahankan kesuburan; penyakit lokal lain memakai histerektomi atau kemoradiasi dengan brachytherapy. Penyakit kembali atau menyebar dapat memakai kemoterapi, antiangiogenesis, imunoterapi, atau terapi target.

Pencegahan dan pemulihan

Lengkapi vaksin HPV sesuai program, jangan merokok, dan hadir pada skrining serta tindak lanjut. Diskusikan fertilitas sebelum terapi. Setelah terapi, tim memantau kandung kemih, usus, limfedema, menopause, kesehatan seksual, tulang, ginjal, dan dampak emosional.

Mencari bantuan di IndonesiaPuskesmas dapat memberi informasi skrining serviks dan imunisasi HPV sesuai program nasional. Hasil positif harus ditindaklanjuti; jangan menunggu gejala karena perubahan prakanker biasanya tidak terasa.
Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada National Cancer Institute — screening, NCI — treatment, NCI — cervical cancer causes. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.