Beranda/Kanker/Kanker Nasofaring

Kanker Kepala dan Leher

Kanker Nasofaring

Kanker nasofaring tumbuh di ruang belakang hidung dan lebih sering ditemukan di Asia Tenggara. Benjolan leher tanpa nyeri, telinga penuh atau pendengaran turun satu sisi, sumbatan hidung, dan mimisan dapat menjadi tanda awal; infeksi EBV terkait erat tetapi sangat umum dan bukan berarti pasti kanker.

SehatKita · kurasi berbantuan AIDiperbarui: 8 September 20262 menit

Disusun dengan bantuan Claude dari sumber web. Belum ditinjau oleh tenaga medis. Proses editorial

Ilustrasi editorial untuk artikel Kanker Nasofaring

Mengapa terkonsentrasi di Asia Tenggara dan Tiongkok Selatan

Virus Epstein-Barr (EBV) menginfeksi hampir semua orang dewasa di dunia dan biasanya tidak menimbulkan masalah, tetapi pada kanker nasofaring virus ini bersembunyi di dalam sel nasofaring dan menyebabkan ketidakstabilan genom yang menumpuk seiring waktu. EBV sendiri dianggap penyebab yang perlu tetapi tidak cukup — artinya infeksi EBV saja jarang memicu kanker tanpa faktor pendorong tambahan, seperti paparan bahan kimia dari makanan yang diawetkan.

Inilah mengapa kanker ini sangat terkonsentrasi secara geografis di Asia Tenggara dan Tiongkok Selatan, wilayah dengan insiden tertinggi di dunia: ikan asin dan makanan olahan tradisional di wilayah ini mengandung kadar nitrosamin tinggi yang dapat mengaktifkan kembali EBV yang tadinya tidak aktif di sel nasofaring dan mendorong akumulasi kerusakan genom. Bukti kuat datang dari Hong Kong, di mana penurunan konsumsi ikan asin dari waktu ke waktu berbarengan dengan penurunan angka kanker nasofaring.

Gejala dan risiko

Benjolan leher, tinitus, gangguan dengar, otitis media pada dewasa, sakit tenggorokan, hidung tersumbat atau berdarah dapat terjadi. Stadium lanjut dapat menyebabkan sakit kepala, baal atau lemah wajah, penglihatan ganda, dan sulit menelan. Riwayat keluarga, EBV, makanan asin awet tertentu, dan merokok meningkatkan risiko.

Gangguan saraf atau jalan napas perlu pertolongan segeraKe IGD bila sulit bernapas atau menelan ludah, penglihatan ganda mendadak, kelemahan atau baal wajah baru, sakit kepala hebat, kebingungan, mimisan tidak berhenti, atau demam saat neutropenia.

Diagnosis

THT melakukan nasofaringoskopi dan biopsi massa. Patologi termasuk tes EBV atau HPV sesuai konteks. MRI menilai dasar tengkorak dan saraf, CT atau PET-CT menilai tulang, kelenjar, dan penyebaran. EBV DNA plasma dapat membantu prognosis dan pemantauan, tetapi tidak menggantikan endoskopi serta biopsi.

Terapi

Radioterapi IMRT adalah dasar terapi karena lokasi sulit dioperasi; kemoterapi ditambahkan menurut stadium, sebelum, bersamaan, atau setelah radiasi. Penyakit kembali atau menyebar dapat memakai kemoterapi, imunoterapi, radioterapi ulang, atau operasi pada pasien terpilih.

Efek lanjut dan tindak lanjut

Tim memantau pendengaran, tiroid, gigi, mulut kering, rahang, menelan, nutrisi, saraf, dan EBV DNA bila relevan. Pemeriksaan gigi sebelum radiasi, fluoride, latihan rahang, terapi menelan, dan berhenti merokok membantu. Tindak lanjut juga mencari kekambuhan dan kanker kedua.

Mencari bantuan di IndonesiaPenanganan ideal melibatkan THT-onkologi, onkologi radiasi, onkologi medik, radiologi, patologi, dokter gigi, audiologi, gizi, serta terapi bicara dan menelan.
Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada National Cancer Institute, PMC — molecular mechanisms of nasopharyngeal carcinoma. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.