Beranda/Infeksi/Infeksi Bakteri

Infeksi

Infeksi Bakteri

Bakteri hidup normal di tubuh dan lingkungan; tidak semua temuan bakteri berarti penyakit. Infeksi terjadi ketika bakteri memasuki atau berkembang di tempat tertentu dan menimbulkan kerusakan atau respons tubuh, sedangkan kolonisasi tidak menimbulkan gejala.

SehatKita · kurasi berbantuan AIDiperbarui: 8 September 20262 menit

Disusun dengan bantuan Claude dari sumber web. Belum ditinjau oleh tenaga medis. Proses editorial

Ilustrasi editorial untuk artikel Infeksi Bakteri

Mengapa keberadaan bakteri tidak selalu berarti sakit

Tubuh manusia dihuni triliunan bakteri yang hidup damai sebagai flora normal di kulit, usus, mulut, dan saluran napas atas tanpa menimbulkan masalah — kondisi yang disebut kolonisasi, di mana sistem imun mengenali bakteri ini sebagai bagian dari tubuh dan tidak melancarkan serangan. Bakteri berubah menjadi infeksi sesungguhnya hanya ketika ia berhasil menembus pertahanan tubuh ke jaringan yang seharusnya steril, atau ketika populasinya tumbuh berlebihan hingga melampaui kemampuan tubuh mengendalikannya, dan mulai mengaktifkan faktor virulensi (senjata biologis) seperti racun atau enzim perusak jaringan.

Sebagian bakteri bahkan menggunakan sistem komunikasi antar sel yang disebut quorum sensing — mereka "menghitung" jumlah sesama bakteri di sekitarnya lewat molekul kimia, dan baru mengaktifkan gen-gen penyebab penyakit setelah populasi cukup besar untuk melancarkan serangan efektif sekaligus, alih-alih membocorkan diri terlalu dini saat jumlahnya masih sedikit. Inilah mengapa ditemukannya bakteri dalam sampel tubuh (misalnya di urine atau luka) tidak otomatis berarti perlu antibiotik — dokter harus membedakan kolonisasi yang tidak berbahaya dari infeksi aktif yang benar-benar merusak jaringan berdasarkan gejala klinis, bukan sekadar hasil kultur semata.

Gejala bergantung lokasi

Pneumonia, ISK, selulitis, meningitis, diare, dan infeksi luka memiliki pola berbeda. Demam, nanah, atau darah putih tinggi tidak selalu membuktikan bakteri, dan lendir hijau bukan alasan tunggal antibiotik. Pemeriksaan klinis menentukan tes yang tepat.

Infeksi dapat berkembang menjadi sepsisKe IGD bila bingung, napas cepat, tekanan darah turun, kulit dingin atau belang, nyeri ekstrem, leher kaku, kejang, tidak kencing, bengkak menyebar cepat, atau demam pada bayi sangat muda dan pasien imunokompromais.

Tes mikrobiologi

Kultur dari darah, urine, dahak, luka, atau cairan tubuh membantu mengidentifikasi kuman dan kepekaan, tetapi sampel yang buruk dapat terkontaminasi. Tes molekuler cepat membantu pada kondisi tertentu. Hasil harus ditafsirkan bersama gejala dan lokasi.

Antibiotik dan kontrol sumber

Antibiotik dipilih berdasarkan lokasi, keparahan, alergi, ginjal atau hati, kehamilan, pola resistansi, dan hasil kultur. Abses perlu drainase, benda asing atau kateter mungkin perlu dilepas, dan jaringan mati kadang perlu operasi; antibiotik saja tidak selalu cukup.

Gunakan dengan aman

Jangan memakai sisa obat, berbagi, membeli tanpa resep, atau berhenti dan mengganti dosis sendiri. Antibiotik tidak mengobati virus dan dapat menyebabkan alergi, diare C. difficile, interaksi, serta resistansi. Bila gejala tidak membaik, diagnosis dan sumber perlu dievaluasi ulang.

Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada CDC — sepsis, NCBI Bookshelf — normal flora. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.