Beranda/Infeksi/Demam Kelenjar (Mononukleosis)

Infeksi

Demam Kelenjar (Mononukleosis)

Demam kelenjar atau mononukleosis paling sering disebabkan virus Epstein-Barr. Kondisi ini umum pada remaja dan dewasa muda, biasanya membaik sendiri, tetapi kelelahan dapat berlangsung berminggu-minggu atau lebih lama.

SehatKita · kurasi berbantuan AIDiperbarui: 8 September 20262 menit

Disusun dengan bantuan Claude dari sumber web. Belum ditinjau oleh tenaga medis. Proses editorial

Ilustrasi editorial untuk artikel Demam Kelenjar (Mononukleosis)

Mengapa virus ini menetap seumur hidup dan memicu kelelahan berkepanjangan

Virus Epstein-Barr menginfeksi limfosit B, sejenis sel imun, dan setelah infeksi awal mereda, virus ini tidak benar-benar hilang — ia bersembunyi dalam bentuk tidak aktif (laten) di dalam sel B memori seumur hidup sambil menekan sebagian besar aktivitas gennya sendiri agar tidak dikenali sistem imun. Sebagian besar gejala mononukleosis yang dirasakan (demam, sakit tenggorokan, kelelahan hebat) sebenarnya bukan disebabkan langsung oleh virus, melainkan oleh respons sistem imun sendiri yang bekerja sangat keras melawan sel B yang terinfeksi.

Karena kelelahan berasal dari reaksi imun yang begitu intens, ia dapat bertahan jauh lebih lama dari gejala lain — biasanya membaik bertahap dalam waktu sekitar 3 bulan, tetapi pada sebagian orang berlanjut menjadi kelelahan berkepanjangan meski demam dan sakit tenggorokan sudah lama hilang. Inilah mengapa pemulihan tenaga setelah mononukleosis perlu dilakukan bertahap dan tidak boleh dipaksa, karena tubuh masih dalam proses menormalkan respons imun yang sempat sangat aktif.

Gejala

Demam, sakit tenggorokan berat, kelenjar leher bengkak, sakit kepala, ruam, dan kelelahan menonjol dapat terjadi. Hati atau limpa juga dapat membesar walau tidak selalu terasa.

Komplikasi yang daruratTidak bisa menelan air liur, sulit bernapas, atau nyeri perut kiri atas maupun bahu kiri yang mendadak dan berat—terutama dengan pusing—membutuhkan pertolongan segera.

Diagnosis

Dokter menilai gejala dan dapat melakukan tes darah untuk Epstein-Barr serta mencari penyebab lain. Antibiotik tidak mengobati virus; amoksisilin atau ampisilin dapat memicu ruam pada mononukleosis dan tidak boleh digunakan tanpa indikasi.

Perawatan

Istirahat, cairan sedikit tetapi sering, dan pereda nyeri yang aman membantu. Kembali ke sekolah atau kerja saat kondisi memungkinkan, tetapi pemulihan tenaga harus bertahap.

Lindungi limpa dan kurangi penularan

Hindari olahraga kontak, angkat berat, dan aktivitas berisiko benturan sampai dinyatakan aman karena limpa dapat membesar. Jangan berbagi gelas atau alat makan dan hindari berciuman selama sakit.

Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada NHS, PMC — immunological imprint of primary EBV infection and fatigue. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.