Beranda/Infeksi/Demam Berdarah Dengue (DBD)

Infeksi

Demam Berdarah Dengue (DBD)

Dengue adalah infeksi virus dari gigitan nyamuk Aedes. Sebagian ringan, tetapi dengue berat dapat menyebabkan kebocoran plasma, syok, perdarahan, atau kerusakan organ—sering ketika demam mulai turun sehingga pasien tampak seolah membaik.

SehatKita · kurasi berbantuan AIDiperbarui: 8 September 20263 menit

Disusun dengan bantuan Claude dari sumber web. Belum ditinjau oleh tenaga medis. Proses editorial

Ilustrasi editorial untuk artikel Demam Berdarah Dengue (DBD)

Mengapa infeksi kedua bisa jauh lebih berat dari yang pertama

Dengue memiliki empat serotipe virus berbeda, dan infeksi pertama pada salah satu serotipe biasanya membentuk antibodi yang justru tidak cukup kuat untuk menetralkan serotipe lain sepenuhnya. Ketika seseorang terinfeksi serotipe kedua yang berbeda, antibodi lama ini dapat menempel pada virus baru tanpa membunuhnya, dan alih-alih melindungi, antibodi tersebut justru mempermudah virus masuk ke lebih banyak sel imun lewat reseptor Fc — fenomena yang disebut antibody-dependent enhancement (ADE) yang memicu replikasi virus jauh lebih tinggi dari infeksi pertama.

Lonjakan virus inilah yang memicu pelepasan zat radang berlebihan dan aktivasi sel mast yang merusak lapisan pembuluh darah, menyebabkan plasma (bagian cair darah) bocor keluar dari pembuluh ke jaringan sekitar — inilah mekanisme di balik kebocoran plasma yang menjadi ciri khas DBD berat, biasanya muncul justru saat demam mulai turun karena saat itulah proses kekebalan sedang berada di puncaknya. Inilah mengapa infeksi dengue kedua pada serotipe berbeda secara statistik jauh lebih berisiko menjadi berat dibanding infeksi pertama, dan mengapa fase "membaik" saat demam turun justru menjadi periode paling kritis untuk diawasi.

Gejala dan fase penyakit

Demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri belakang mata, pegal, mual, muntah, dan ruam dapat terjadi. Fase kritis biasanya sekitar hari ke-3 sampai ke-7, dekat saat suhu turun. Jumlah trombosit saja tidak menentukan berat penyakit; kondisi klinis, hematokrit, cairan, dan tanda kebocoran perlu dinilai bersama.

Demam turun bukan selalu sembuhKe IGD segera bila ada tanda bahaya, pingsan, sulit dibangunkan, sesak, perdarahan, kejang, tidak mampu minum, atau urine sangat sedikit. Bayi, ibu hamil, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta perlu dinilai lebih dini.

Tanda bahaya

Nyeri perut hebat atau menetap, muntah berulang, perdarahan mukosa, muntah darah atau tinja hitam, lemas atau gelisah, mengantuk, tangan-kaki dingin, sulit bernapas, pembesaran hati, dan urine berkurang membutuhkan penilaian segera.

Perawatan

Istirahat dan cairan oral sedikit-sedikit tetapi sering membantu kasus tanpa tanda bahaya; catat minum, urine, demam, dan gejala. Parasetamol dapat digunakan sesuai dosis. Hindari aspirin, ibuprofen, diklofenak, dan NSAID lain karena meningkatkan risiko perdarahan. Antibiotik tidak mengobati dengue.

Pencegahan

Gunakan repelan, pakaian tertutup, kasa atau kelambu, dan kurangi tempat nyamuk bertelur dengan menguras, menutup, dan mendaur ulang wadah air. Pasien juga perlu menghindari gigitan pada minggu pertama agar virus tidak diteruskan ke nyamuk dan orang lain.

Mencari bantuan di IndonesiaPeriksa ke puskesmas atau fasilitas kesehatan bila demam menetap atau aktivitas terganggu. Ikuti pemantauan harian yang dianjurkan; jangan meminta infus atau transfusi trombosit tanpa indikasi klinis.
Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Kesehatan RI — kapan ke IGD, PMC — antibody-dependent enhancement in dengue. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.