Darah

Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik terjadi ketika sel darah merah dihancurkan lebih cepat daripada kemampuan tubuh menggantinya. Kondisi ini dapat muncul mendadak atau perlahan dan memiliki banyak penyebab.

SehatKita · kurasi berbantuan AIDiperbarui: 8 September 20262 menit

Disusun dengan bantuan Claude dari sumber web. Belum ditinjau oleh tenaga medis. Proses editorial

Ilustrasi editorial untuk artikel Anemia Hemolitik

Mengapa kulit menguning dan urine menggelap

Ketika sel darah merah dihancurkan lebih cepat dari biasanya, hemoglobin yang dilepaskan dipecah menjadi bilirubin dalam jumlah besar — jauh melebihi kapasitas hati untuk memprosesnya secepat biasanya. Bilirubin yang menumpuk inilah yang memberi warna kuning pada kulit dan bagian putih mata (jaundice), sementara sebagian bilirubin yang berhasil diproses hati berubah menjadi urobilinogen yang dikeluarkan lewat urine dalam jumlah berlebih, membuat urine tampak lebih gelap dari biasanya.

Pola gejala ini juga bergantung pada di mana penghancuran sel darah merah terjadi: bila terjadi di dalam pembuluh darah itu sendiri (hemolisis intravaskular), hemoglobin bebas yang tidak terikat protein pembawa dapat langsung dikeluarkan lewat urine, membuat urine tampak gelap kemerahan bahkan tanpa peningkatan bilirubin yang signifikan. Bila penghancuran terjadi di limpa atau hati oleh sel imun (hemolisis ekstravaskular, jenis yang lebih umum), proses pemecahan hemoglobin menjadi bilirubin berlangsung lebih bertahap di dalam sel-sel imun tersebut. Perbedaan lokasi penghancuran inilah yang menjelaskan mengapa pola gejala dan hasil laboratorium bisa sangat bervariasi antar penyebab hemolisis yang berbeda.

Gejala

Selain lelah, pucat, pusing, dan sesak, pemecahan sel darah dapat menyebabkan kulit atau mata menguning, urine gelap, nyeri perut atau punggung, demam, dan pembesaran limpa. Gejala bergantung pada kecepatan hemolisis.

Cari bantuan cepatSesak berat, nyeri dada, pingsan, demam tinggi, urine sangat gelap dengan lemah berat, kuning yang cepat memburuk, atau gejala setelah transfusi memerlukan pertolongan segera.

Penyebab

Kelainan bawaan seperti penyakit sel sabit, talasemia, atau defisiensi G6PD; proses autoimun; infeksi; reaksi transfusi; katup jantung mekanis; dan obat tertentu dapat memicu hemolisis.

Pemeriksaan

Hitung darah, retikulosit, bilirubin, LDH, haptoglobin, apusan darah, tes antiglobulin, urine, serta tes genetik atau sumsum tulang tertentu membantu menentukan apakah hemolisis terjadi dan apa penyebabnya.

Pengobatan

Terapi dapat berupa menghentikan pemicu di bawah arahan dokter, mengobati infeksi, obat untuk proses imun, transfusi, atau tindakan lain seperti pengangkatan limpa dan transplantasi pada kondisi tertentu. Jangan menghentikan obat tersangka sendiri bila tidak darurat.

Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada NHLBI, AFP — hemolytic anemia evaluation and differential diagnosis. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.