Beranda/Darah dan Kekebalan Tubuh/Anemia Defisiensi Besi

Darah

Anemia Defisiensi Besi

Anemia defisiensi besi terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup zat besi untuk membuat hemoglobin. Pengobatan perlu mengganti zat besi sekaligus menemukan penyebab kekurangannya.

SehatKita · kurasi berbantuan AIDiperbarui: 8 September 20262 menit

Disusun dengan bantuan Claude dari sumber web. Belum ditinjau oleh tenaga medis. Proses editorial

Ilustrasi editorial untuk artikel Anemia Defisiensi Besi

Mengapa tubuh punya "gerbang penjaga" untuk zat besi

Tubuh mengatur ketersediaan zat besi lewat hormon bernama hepcidin yang bertindak seperti gerbang penjaga: hepcidin menghambat protein pengangkut zat besi (ferroportin) yang seharusnya melepaskan zat besi dari usus dan cadangan tubuh ke aliran darah. Ketika cadangan zat besi tubuh menipis, kadar hepcidin turun untuk membuka gerbang ini lebih lebar, memungkinkan lebih banyak zat besi diserap dari makanan dan dilepas dari cadangan tubuh menuju sumsum tulang untuk pembentukan hemoglobin.

Sekitar 80% zat besi yang beredar dalam darah dipakai khusus untuk membuat hemoglobin, protein pembawa oksigen dalam sel darah merah, sehingga begitu persediaan zat besi tidak mencukupi kebutuhan ini, produksi hemoglobin langsung terhambat meski sumsum tulang sebenarnya masih mampu memproduksi sel darah merah dalam jumlah normal — sel darah merah yang terbentuk hanya lebih kecil dan kurang mengandung hemoglobin dari biasanya. Inilah mengapa mengatasi anemia defisiensi besi memerlukan waktu berbulan-bulan meski suplemen sudah dimulai: tubuh perlu waktu untuk mengisi kembali cadangan zat besi yang habis sebelum produksi hemoglobin bisa kembali sepenuhnya normal, bukan sekadar menaikkan kadar zat besi dalam darah secara instan.

Penyebab

Menstruasi banyak, perdarahan saluran cerna, kehamilan, pertumbuhan, asupan kurang, cacingan, atau gangguan penyerapan dapat menyebabkan kekurangan. Pada laki-laki dewasa dan perempuan setelah menopause, perdarahan tersembunyi perlu dicari.

Cari pertolonganNyeri dada, sesak saat diam, pingsan, jantung sangat cepat, muntah darah, tinja hitam seperti aspal, atau perdarahan banyak memerlukan penilaian segera.

Gejala dan pemeriksaan

Lelah, pucat, sesak saat aktivitas, pusing, sakit kepala, berdebar, kuku rapuh, atau keinginan makan benda bukan makanan dapat terjadi. Hitung darah, ferritin, dan tes zat besi membantu memastikan diagnosis.

Pengobatan

Suplemen zat besi diminum sesuai dosis dan lama yang dianjurkan; efek samping dapat berupa mual, konstipasi, dan tinja gelap. Zat besi melalui infus dipertimbangkan pada keadaan tertentu. Jauhkan tablet dari jangkauan anak karena overdosis berbahaya.

Makanan dan pemantauan

Daging, ikan, unggas, kacang, tahu, tempe, dan pangan fortifikasi dapat membantu. Vitamin C meningkatkan penyerapan dari makanan nabati, sedangkan teh atau kopi dekat waktu makan dapat menguranginya. Tes ulang menilai respons dan pengisian cadangan.

Mencari bantuan di IndonesiaIbu hamil, bayi, dan balita memiliki kebutuhan khusus. Gunakan pemeriksaan kehamilan, posyandu, atau puskesmas untuk skrining dan dosis suplementasi yang tepat.
Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada NHLBI, WHO, PMC — hepcidin and anemia relationship. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.