Indonesia dan beban hepatitis B: salah satu yang terbesar di dunia
Indonesia memiliki populasi penderita HBV kronis tunggal terbesar di dunia—diperkirakan 17,5 juta orang, lebih dari 6% penduduk, menempatkan Indonesia di peringkat kedua se-Asia Pasifik setelah India. Meski prevalensi nasional turun dari 9,4% (2007) menjadi 7,1% (2013) berkat program vaksinasi, angka ini tetap tergolong endemisitas sedang-tinggi menurut kategori WHO.
Fakta ini menjelaskan mengapa skrining HBsAg pada setiap kehamilan begitu ditekankan di Indonesia: penularan dari ibu ke bayi saat persalinan adalah salah satu jalur utama infeksi kronis, dan bayi yang tertular saat lahir jauh lebih mungkin menjadi pembawa kronis seumur hidup dibanding orang dewasa yang tertular kemudian. Vaksin dosis lahir yang diberikan sesegera mungkin setelah kelahiran adalah intervensi tunggal paling efektif memutus rantai penularan generasi ke generasi ini.
Cara menular
HBV menyebar melalui darah dan cairan tubuh, termasuk dari ibu ke bayi saat lahir, hubungan seksual, jarum, tato atau alat tajam tidak steril, dan berbagi pisau cukur. Tidak menular melalui pelukan, berbagi makanan, batuk, atau menyusui pada umumnya.
Tes perlu dibaca sebagai panel
HBsAg, anti-HBs, dan anti-HBc membantu membedakan infeksi aktif, riwayat infeksi, dan kekebalan vaksin. Bila aktif, HBeAg, HBV DNA, ALT, fungsi hati, fibrosis, dan USG menilai fase serta kerusakan. Satu hasil tidak boleh ditafsirkan sendirian.
Pencegahan ibu dan bayi
Semua ibu hamil perlu skrining HBsAg pada setiap kehamilan. Bayi mendapat vaksin hepatitis B dosis lahir sesegera mungkin; bayi dari ibu positif juga memerlukan HBIG dan tindak lanjut sesuai protokol. Ibu dengan viral load tinggi dapat memerlukan tenofovir akhir kehamilan.
Terapi dan pemantauan
Hepatitis B akut biasanya ditangani suportif. Infeksi kronis tertentu memerlukan tenofovir atau entecavir jangka panjang berdasarkan DNA, ALT, fibrosis, usia, keluarga, dan kondisi lain. Bahkan tanpa obat, kontrol berkala dan skrining kanker hati pada kelompok berisiko tetap penting.
Informasi dalam artikel ini merujuk pada WHO, Epidemiology of Hepatitis B and C in Republic of Indonesia (CGHE). Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.



