Seberapa umum, dan seberapa besar risikonya berubah jadi kanker
Keratosis aktinik sangat umum secara global, dengan prevalensi sekitar 14%, tetapi jauh lebih tinggi di negara dengan paparan UV intens sepanjang tahun—di Australia, angkanya mencapai 40–60% pada orang dewasa di atas 40 tahun, kondisi yang relevan bagi Indonesia sebagai negara tropis dengan indeks UV tinggi sepanjang tahun.
Secara mekanisme, paparan UV kronis merusak DNA sel keratinosit di lapisan kulit terluar, termasuk gen p53 yang normalnya berfungsi sebagai 'pengawas' yang menghentikan sel rusak agar tidak terus membelah. Kerusakan berulang inilah yang membuat keratosis aktinik dianggap sebagai tahap paling awal dari karsinoma sel skuamosa (salah satu jenis kanker kulit). Meski begitu, penting punya ekspektasi yang tepat: risiko satu lesi keratosis aktinik berkembang menjadi kanker invasif per tahun diperkirakan berkisar rendah, sekitar 0,025–0,53% per tahun menurut sebagian besar penelitian—artinya sebagian besar lesi tidak akan pernah berubah menjadi kanker, tetapi karena lesi ini sering muncul banyak sekaligus dan risikonya terakumulasi seumur hidup, pemeriksaan dan penanganan tetap dianjurkan.
Ciri yang sering muncul
Bercak terasa seperti amplas, kering, bersisik, dan dapat berwarna seperti kulit, merah muda, merah, atau cokelat. Lokasi tersering adalah wajah, telinga, kulit kepala yang menipis, bibir, punggung tangan, lengan, dan tungkai yang sering terpapar matahari.
Kapan harus diperiksa
Setiap bercak baru yang menetap layak diperiksa, terutama bila membesar, menebal menjadi benjolan, nyeri, mudah berdarah, berubah warna, atau tidak sembuh. Dokter membedakannya dari kanker kulit melalui pemeriksaan dan kadang biopsi.
Pilihan terapi
Satu lesi dapat dibekukan atau diangkat; beberapa lesi atau area yang luas (disebut 'field cancerization', area kulit dengan kerusakan matahari tersebar yang berpotensi memunculkan lesi baru berulang) dapat diterapi dengan krim resep, gel, atau terapi fotodinamik yang menargetkan seluruh area sekaligus. Pilihan bergantung pada jumlah, lokasi, ketebalan, kondisi imun, dan hasil pemeriksaan. Jangan mengikis atau mengoleskan bahan keras sendiri.
Mencegah kerusakan baru
Batasi matahari terik, cari tempat teduh, gunakan topi dan pakaian tertutup, serta tabir surya spektrum luas minimal SPF 30 yang dioles ulang. Periksa kulit secara berkala karena lesi baru dapat muncul meski yang lama sudah diobati.
Informasi dalam artikel ini merujuk pada NHS, The Christie NHS Foundation Trust, The State of the Art in the Treatment of Actinic Keratosis and Field Cancerization (PMC). Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.



