Beranda/Kesehatan Perempuan/Sindrom Genitourinaria Menopause (Atrofi Vagina)

Kesehatan Perempuan

Sindrom Genitourinaria Menopause (Atrofi Vagina)

Istilah yang lebih luas adalah sindrom genitourinaria menopause: perubahan vagina, vulva, uretra, dan kandung kemih akibat estrogen menurun. Keluhan dapat memburuk tanpa terapi, tetapi tersedia pilihan nonhormonal dan hormonal.

SehatKita · kurasi berbantuan AIDiperbarui: 8 September 20262 menit

Disusun dengan bantuan Claude dari sumber web. Belum ditinjau oleh tenaga medis. Proses editorial

Ilustrasi editorial untuk artikel Sindrom Genitourinaria Menopause (Atrofi Vagina)

Mengapa keluhan ini justru memburuk seiring waktu, berbeda dari hot flashes yang mereda sendiri

Selama masa reproduksi, estrogen menjaga sel-sel dinding vagina tetap kaya glikogen, yang kemudian diubah oleh bakteri Lactobacillus menjadi asam laktat sehingga vagina memiliki lingkungan asam (pH 3,5-5,0) yang secara alami melindungi dari bakteri berbahaya dan ikut menjaga saluran kemih di sekitarnya. Ketika estrogen menurun setelah menopause, produksi glikogen ikut menurun, populasi Lactobacillus yang bergantung pada glikogen tersebut ikut berkurang, dan pH vagina naik menjadi kurang asam—membuka jalan bagi bakteri lain yang sebelumnya tertekan untuk berkembang biak lebih leluasa.

Berbeda dari hot flashes yang merupakan gejala sesaat dan bisa membaik dengan sendirinya seiring waktu, sindrom genitourinaria menopause bersifat progresif karena melibatkan perubahan struktur jaringan dan pergeseran mikrobioma yang terus berjalan selama estrogen tetap rendah—tanpa terapi, siklus penurunan glikogen, penurunan Lactobacillus, dan kenaikan pH ini terus berlanjut dan tidak berhenti sendiri. Inilah sebabnya keluhan seperti kekeringan, nyeri berhubungan, dan infeksi saluran kemih berulang cenderung semakin memberat dari tahun ke tahun bila dibiarkan, sementara estrogen vagina dosis rendah dapat membalikkan siklus ini dengan mengembalikan glikogen dan lingkungan asam yang protektif.

Gejala

Kering, perih, gatal, rasa terbakar, nyeri atau bercak setelah hubungan, penurunan elastisitas, sering kencing, rasa mendesak, dan infeksi saluran kemih berulang dapat terjadi. Kondisi juga dapat muncul saat menyusui, setelah terapi kanker, operasi ovarium, atau obat penekan estrogen.

Perdarahan perlu diperiksaTemui dokter segera bila ada perdarahan setelah menopause, perdarahan banyak, nyeri panggul berat, demam, luka atau benjolan, cairan berbau, darah dalam urine, atau sulit berkemih.

Pastikan penyebab

Infeksi, penyakit kulit vulva, iritasi produk, prolaps, dan kanker dapat memberi keluhan mirip. Pemeriksaan diperlukan bila gejala menetap, ada cairan berbau, luka, atau perdarahan. Setiap perdarahan setelah menopause harus dinilai dan tidak boleh dianggap sekadar jaringan kering.

Pilihan nonhormonal

Pelembap vagina digunakan teratur, sedangkan pelumas berbasis air atau silikon dipakai saat aktivitas seksual. Hindari pewangi, douche, sabun keras, dan produk yang menyengat. Aktivitas seksual nyaman atau dilator terarah dapat membantu elastisitas; hentikan bila nyeri atau berdarah.

Terapi hormonal

Estrogen vagina dosis rendah berupa krim, tablet, gel, atau cincin efektif untuk banyak pasien dan penyerapannya ke seluruh tubuh biasanya rendah. HRT sistemik dipilih bila ada gejala menopause lain. Riwayat kanker sensitif hormon, perdarahan belum jelas, atau risiko trombosis memerlukan keputusan bersama dokter dan tim onkologi.

Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada NHS — perawatan menopause, NHS — estrogen vagina, StatPearls — Genitourinary Syndrome of Menopause. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.