Mengapa demam justru tanda vaksin 'bekerja'
Demam setelah imunisasi bukan efek samping yang tidak diinginkan dalam arti kegagalan, melainkan bukti sistem imun bawaan bayi sedang aktif merespons: vaksin merangsang sel imun melepaskan zat pembawa pesan seperti IL-1β, IL-6, dan TNF-α, yang di antara fungsinya adalah menaikkan set-point suhu tubuh di otak. Respons inilah yang justru diperlukan untuk memicu terbentuknya kekebalan jangka panjang terhadap penyakit yang divaksinasi.
Demam cenderung lebih sering muncul ketika beberapa vaksin diberikan bersamaan pada satu kunjungan, karena efek gabungan dari beberapa antigen dan adjuvant (zat penguat respons imun) yang bekerja serentak. Ini bukan tanda bayi 'kelebihan vaksin'—kombinasi ini sudah diuji aman dan justru mengurangi jumlah kunjungan yang diperlukan.
Perawatan di rumah
Berikan ASI atau susu formula lebih sering dan pantau kondisi bayi. Kompres sejuk pada tempat suntikan dapat membantu nyeri. Jangan membungkus bayi terlalu tebal dan jangan menggunakan air es atau alkohol untuk menurunkan suhu.
Tentang obat penurun panas
Obat tidak selalu diperlukan hanya karena angka suhu naik. Bila bayi tampak tidak nyaman, tanyakan dosis parasetamol berdasarkan berat badan kepada tenaga kesehatan. Jangan memberi aspirin kepada anak dan jangan menggabungkan obat tanpa arahan.
Pantau, bukan hanya mengukur suhu
Perhatikan kemampuan minum, jumlah popok basah, napas, kesadaran, tangisan, ruam, dan apakah kondisi membaik. Catat waktu imunisasi, mulai demam, suhu, dan obat yang diberikan.
Imunisasi berikutnya
Demam ringan setelah dosis sebelumnya biasanya bukan alasan untuk menghentikan rangkaian imunisasi. Ceritakan reaksi yang terjadi kepada petugas sebelum dosis berikutnya agar dapat dinilai dengan tepat.
Informasi dalam artikel ini merujuk pada CDC, Post-vaccination fever in infants: Real-world data analysis (ScienceDirect). Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.



