Beranda/Kesehatan Bayi dan Anak/Disentri pada Bayi

Kesehatan Bayi

Disentri pada Bayi

Disentri adalah diare dengan darah yang terlihat pada tinja. Pada bayi, kondisi ini tidak seharusnya ditangani sendiri karena dapat menyebabkan dehidrasi dan mungkin membutuhkan pengobatan khusus.

SehatKita · kurasi berbantuan AIDiperbarui: 6 September 20262 menit

Disusun dengan bantuan Claude dari sumber web. Belum ditinjau oleh tenaga medis. Proses editorial

Ilustrasi editorial untuk artikel Disentri pada Bayi

Mengapa Shigella menyebabkan darah pada tinja, dan mengapa antibiotik sembarangan berbahaya

Shigella adalah penyebab disentri bakteri tersering pada anak secara global, diperkirakan menyebabkan sekitar 100 juta kasus per tahun, terutama pada balita di bawah usia 5 tahun di negara berkembang—dan menjadi penyebab diare paling umum pada anak usia 2–5 tahun. Berbeda dari bakteri diare biasa yang hanya menempel di permukaan usus, Shigella benar-benar menyerbu masuk ke dalam sel-sel yang melapisi usus besar menggunakan semacam 'jarum suntik molekuler' (sistem sekresi tipe III) untuk menyuntikkan racun langsung ke sel target.

Invasi ini memicu peradangan hebat yang merusak jaringan usus—itulah sumber darah dan lendir yang muncul pada tinja, berbeda dari diare berair biasa. Fakta penting lainnya: Shigella kini menunjukkan resistensi tinggi terhadap sejumlah antibiotik umum (termasuk hingga 88-89% resisten terhadap ampisilin dan tetrasiklin pada sejumlah studi), sehingga pemberian antibiotik sisa atau sembarangan bukan hanya berisiko tidak efektif, tetapi juga mempercepat munculnya galur yang makin sulit diobati di masa depan—inilah mengapa pemeriksaan dan resep yang tepat sasaran jauh lebih penting dibanding mengobati sendiri.

Apa penyebabnya?

Disentri sering berkaitan dengan infeksi bakteri seperti Shigella, tetapi penyebab lain mungkin terjadi. Penularan dapat melalui tangan, makanan, atau air yang terkontaminasi.

Tinja berdarah perlu diperiksa hari iniSegera ke fasilitas kesehatan, terlebih bila bayi sulit minum, muntah terus, lemas, mata cekung, popok berkurang, demam tinggi, perut membuncit, atau darah bertambah banyak.

Yang dilakukan sambil mencari pertolongan

Teruskan ASI dan berikan oralit sedikit demi sedikit bila bayi mampu minum. Catat frekuensi tinja, darah, muntah, suhu, dan jumlah popok basah. Jangan menunda pemeriksaan.

Jangan memakai antibiotik sisa

Pemilihan antibiotik bergantung pada usia, kondisi anak, pola resistensi setempat, dan kemungkinan penyebab. Obat yang salah dapat tidak efektif dan menambah resistensi.

Cegah penyebaran

Cuci tangan dengan sabun setelah mengganti popok dan sebelum menyiapkan makanan, buang popok dengan aman, gunakan air bersih, serta jangan berbagi handuk atau alat makan.

Mencari bantuan di IndonesiaMulailah dari puskesmas/FKTP bila bayi stabil. Untuk dehidrasi, penurunan kesadaran, atau tidak mampu minum, langsung ke IGD.
Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada WHO, WHO IMCI, The Inside Story of Shigella Invasion of Intestinal Epithelial Cells (PMC). Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.