Diabetes dan Metabolik

Diabetes Tipe 2

Diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh tidak memakai insulin secara efektif dan akhirnya tidak menghasilkan cukup insulin. Kondisi ini sering berkembang tanpa gejala, tetapi deteksi dan terapi dini dapat mencegah atau menunda kerusakan organ.

SehatKita · kurasi berbantuan AIDiperbarui: 8 September 20263 menit

Disusun dengan bantuan Claude dari sumber web. Belum ditinjau oleh tenaga medis. Proses editorial

Ilustrasi editorial untuk artikel Diabetes Tipe 2

Mengapa prediabetes bisa diam-diam bertahun-tahun sebelum menjadi diabetes

Lemak yang menumpuk di sekitar organ dalam perut (lemak viseral) bukan sekadar cadangan energi pasif—lemak ini aktif melepaskan zat pemicu peradangan dan asam lemak bebas langsung ke aliran darah menuju hati, membuat sel-sel otot, lemak, dan hati semakin kurang peka terhadap insulin (resistansi insulin). Selama bertahun-tahun, pankreas mengompensasi resistansi ini dengan memproduksi insulin jauh lebih banyak dari normal, sehingga gula darah masih bisa dijaga tetap mendekati normal meski insulin dalam darah sudah meningkat drastis—kondisi hiperinsulinemia ini bahkan dapat mendahului gula darah tinggi hingga puluhan tahun, menjelaskan mengapa prediabetes dapat berlangsung bertahun-tahun tanpa gejala apa pun.

Diabetes tipe 2 baru benar-benar muncul ketika sel-sel penghasil insulin di pankreas akhirnya "kelelahan" oleh tuntutan produksi berlebih yang terus-menerus ini, mengalami stres oksidatif dan peradangan kronis hingga kemampuan kompensasinya menurun bertahap dan produksi insulin tidak lagi mencukupi. Inilah sebabnya menurunkan berat badan dan lemak perut sejak fase prediabetes—sebelum sel pankreas benar-benar kelelahan—jauh lebih efektif mencegah progresi ke diabetes dibanding menunggu gula darah benar-benar tinggi, karena pada titik itu sebagian kemampuan pankreas memproduksi insulin mungkin sudah menurun secara permanen.

Risiko dan gejala

Riwayat keluarga, berat badan berlebih terutama di perut, kurang gerak, usia, diabetes gestasional, hipertensi, dan gangguan lipid meningkatkan risiko. Sering kencing, haus, lelah, pandangan kabur, infeksi berulang, atau luka lambat sembuh dapat muncul, tetapi tes darah tetap diperlukan.

Komplikasi akut tetap dapat terjadiKe IGD bila muntah terus, napas cepat, dehidrasi berat, kebingungan, mengantuk, kejang, pingsan, gula sangat tinggi dengan kondisi memburuk, atau hipoglikemia yang tidak membaik setelah penanganan awal.

Diagnosis dan target

Gula puasa, HbA1c, tes toleransi glukosa, atau gula sewaktu dengan gejala digunakan sesuai situasi. Hasil tertentu perlu dikonfirmasi. Target gula dan HbA1c dibuat individual berdasarkan usia, komplikasi, kehamilan, risiko hipoglikemia, dan kemampuan menjalani terapi.

Pengobatan

Pola makan yang realistis, aktivitas, tidur, berhenti merokok, dan edukasi adalah dasar. Metformin, obat GLP-1, SGLT2, sulfonilurea, insulin, atau pilihan lain disesuaikan dengan jantung, ginjal, berat, biaya, dan risiko gula rendah; tidak ada satu obat terbaik untuk semua.

Melindungi organ

Pantau tekanan darah, lipid, ginjal, retina, saraf, kaki, gigi, dan kesehatan mental. Obat jantung atau ginjal kadang bermanfaat di luar penurunan gula. Periksa kaki setiap hari dan segera tangani luka, perubahan warna, bengkak, atau infeksi.

Mencari bantuan di IndonesiaManfaatkan kontrol FKTP dan Prolanis JKN bila tersedia. Bawa catatan gula, obat, tekanan darah, dan keluhan kaki atau penglihatan pada setiap kunjungan.
Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada WHO, CDC, Nature — Type 2 Diabetes Mellitus in Adults: Pathogenesis. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.