Beranda/Pencernaan dan Hati/Demam Tifoid (Tipes)

Infeksi Pencernaan

Demam Tifoid (Tipes)

Demam tifoid adalah infeksi sistemik oleh Salmonella Typhi yang menyebar melalui makanan atau air tercemar tinja. Gejalanya menyerupai banyak penyakit demam lain, sehingga pemeriksaan klinis dan kultur penting sebelum menentukan terapi.

SehatKita · kurasi berbantuan AIDiperbarui: 7 September 20263 menit

Disusun dengan bantuan Claude dari sumber web. Belum ditinjau oleh tenaga medis. Proses editorial

Ilustrasi editorial untuk artikel Demam Tifoid (Tipes)

Mengapa gejala tifoid berkembang perlahan, dan mengapa bisa jadi 'pembawa' seumur hidup

Tifoid masih menjadi beban kesehatan signifikan secara global, dengan 14,3 juta kasus tercatat pada 2017 (meski sudah turun 44,6% dari 25,9 juta kasus pada 1990) dan sekitar 136.000 kematian per tahun. Bakteri Salmonella Typhi memiliki strategi unik yang menjelaskan mengapa gejalanya berkembang bertahap, bukan mendadak seperti keracunan makanan biasa: bakteri ini menembus usus lewat sel M yang melapisi kelenjar getah bening usus (Peyer's patches), lalu secara khusus meredam respons peradangan lokal alih-alih memicu diare hebat segera—bakteri 'menyelinap' masuk ke aliran darah dan menyebar sistemik sebelum tubuh sempat bereaksi kuat, itulah mengapa demam naik bertahap selama beberapa hari, bukan langsung tinggi.

Hal lain yang unik: pada sebagian kecil kasus, bakteri ini dapat bersembunyi di kandung empedu, kadang membentuk biofilm pada batu empedu, sehingga orang tersebut sembuh dari gejala tetapi terus mengeluarkan bakteri lewat tinja selama bertahun-tahun tanpa sadar—kondisi yang disebut pembawa kronis (chronic carrier). Inilah salah satu alasan mengapa deteksi dan pengobatan tuntas penting bukan hanya untuk individu, tetapi untuk memutus rantai penularan di masyarakat.

Gejala dan penularan

Demam yang naik bertahap atau menetap, sakit kepala, lemah, nyeri perut, mual, sembelit atau diare dapat terjadi. Pasien dan pembawa kronis dapat mengeluarkan bakteri melalui tinja. Air bersih, sanitasi, cuci tangan, serta makanan matang dan masih panas menurunkan risiko.

Perdarahan atau kebocoran usus mengancam jiwaSegera ke IGD untuk nyeri perut hebat atau mendadak, perut kaku, BAB hitam atau berdarah, muntah darah, kebingungan, pingsan, sulit minum, urine sangat sedikit, atau demam dengan kondisi memburuk.

Diagnosis

Kultur darah adalah pemeriksaan utama dan idealnya diambil sebelum antibiotik; kadang diperlukan lebih dari satu sampel. Kultur tinja atau sumsum digunakan pada kondisi tertentu. Tes Widal tunggal tidak dianjurkan sebagai dasar diagnosis karena banyak hasil positif palsu dan sulit membedakan infeksi lama.

Pengobatan

Antibiotik dipilih dokter berdasarkan berat penyakit, perjalanan, pola resistansi, dan hasil kultur. Resistansi Salmonella Typhi terus berubah, sehingga membeli antibiotik sendiri dapat gagal dan memperburuk resistansi. Cairan, nutrisi, dan pemantauan komplikasi juga penting.

Vaksin bukan pengganti sanitasi

Vaksin tifoid membantu mengurangi risiko tetapi tidak melindungi sepenuhnya dan tidak mencegah semua demam enterik. Jadwal mengikuti produk serta rekomendasi Indonesia atau perjalanan. Orang yang pernah sakit tetap perlu kebersihan makanan dan dapat memerlukan evaluasi pembawa.

Mencari bantuan di IndonesiaDatang ke fasilitas kesehatan sebelum memulai antibiotik bila memungkinkan agar kultur dapat diambil. Peserta JKN dapat memulai dari FKTP, sedangkan tanda bahaya langsung ke IGD.
Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada CDC, Typhoid Fever (StatPearls), The global burden of typhoid and paratyphoid fevers (The Lancet Infectious Diseases). Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.