Beranda/Paru dan Pernapasan/Batuk Rejan (Pertusis)

Infeksi Pernapasan

Batuk Rejan (Pertusis)

Batuk rejan adalah infeksi saluran napas yang sangat menular akibat bakteri Bordetella pertussis. Awalnya menyerupai pilek, lalu dapat berkembang menjadi serangan batuk berulang selama berminggu-minggu.

SehatKita · kurasi berbantuan AIDiperbarui: 8 September 20262 menit

Disusun dengan bantuan Claude dari sumber web. Belum ditinjau oleh tenaga medis. Proses editorial

Ilustrasi editorial untuk artikel Batuk Rejan (Pertusis)

Mengapa disebut "batuk seratus hari"

Bakteri Bordetella pertussis menempel pada sel bersilia yang melapisi saluran napas dan melepaskan racun (tracheal cytotoxin) yang secara khusus melumpuhkan dan menghancurkan silia tersebut — struktur rambut halus yang seharusnya terus bergerak menyapu lendir keluar dari saluran napas. Tanpa silia yang berfungsi, lendir menumpuk dan memicu batuk hebat berulang-ulang sebagai satu-satunya cara tersisa membersihkan saluran napas.

Karena kerusakan pada lapisan sel bersilia ini butuh waktu berminggu-minggu untuk pulih dan tumbuh kembali, batuk dapat terus berlanjut jauh setelah antibiotik berhasil membunuh bakterinya — inilah mengapa penyakit ini dijuluki "batuk seratus hari" di beberapa budaya. Racun pertusis yang sama juga membuat saluran napas menjadi lebih reaktif dan sensitif untuk sementara waktu, menambah durasi batuk di luar waktu yang dibutuhkan jaringan untuk benar-benar sembuh. Memahami ini penting agar antibiotik tidak dianggap gagal hanya karena batuk masih berlanjut — antibiotik menghentikan penyebaran bakteri, bukan langsung menghentikan batuk yang sudah terlanjur dipicu kerusakan jaringan.

Gejala

Pilek, demam ringan, dan batuk ringan dapat mendahului serangan batuk cepat berturut-turut, bunyi tarikan napas ‘whoop’, atau muntah setelah batuk. Bayi mungkin tidak batuk khas dan justru berhenti bernapas atau membiru.

Bayi berisiko tinggiBayi dengan jeda napas, kebiruan, sulit makan, dehidrasi, kejang, sangat lemas, atau kesulitan bernapas membutuhkan pertolongan segera. Jangan menunggu muncul bunyi ‘whoop’.

Diagnosis dan pengobatan

Dokter dapat mengambil sampel dari belakang hidung atau tenggorokan. Antibiotik paling membantu mengurangi keparahan bila dimulai pada satu hingga dua minggu awal dan membantu membatasi penularan; batuk dapat tetap berlangsung setelah bakteri teratasi.

Melindungi orang lain

Hindari kontak dengan bayi dan orang berisiko tinggi, gunakan masker, tutup batuk, dan ikuti masa isolasi yang dianjurkan. Kontak serumah tertentu dapat memerlukan antibiotik pencegahan meski sudah divaksin.

Imunisasi

Imunisasi pertusis adalah pencegahan utama, tetapi perlindungan dapat menurun sehingga dosis sesuai jadwal tetap penting. Imunisasi ibu hamil membantu melindungi bayi sebelum seri vaksinnya lengkap.

Mencari bantuan di IndonesiaPeriksa status imunisasi pertusis pada Buku KIA atau aplikasi resmi dan konsultasikan imunisasi yang tertinggal dengan puskesmas atau fasilitas kesehatan.
Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada CDC: About pertussis, CDC: Treatment, StatPearls — Pertussis. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.