Kenali pola tanpa menunda
Opioid sering menyebabkan tidak sadar, pupil sangat kecil, napas lambat, mendengkur atau bibir biru. Stimulan dapat menyebabkan agitasi, paranoia, panas, keringat, nyeri dada, stroke atau kejang. Sedatif dan alkohol menekan kesadaran dan napas. Paracetamol dapat minim gejala awal tetapi merusak hati; insulin atau obat diabetes dapat menyebabkan keringat, bingung dan kejang.
Apa yang dilakukan penolong
Pastikan lokasi aman, panggil layanan darurat, cek respons dan napas. Bila tidak bernapas normal, mulai CPR sesuai pelatihan atau rescue breathing dan gunakan AED bila tersedia. Berikan nalokson bila opioid mungkin terlibat; ini aman bila ternyata bukan opioid dan dosis ulang mungkin perlu. Letakkan posisi pemulihan bila bernapas tetapi tidak sadar dan tetap dampingi.
Jangan lakukan ini
Jangan membuat muntah, memberi susu, kopi, makanan, mandi dingin, memaksa berjalan atau membiarkan orang 'tidur saja'. Jangan memasukkan apa pun ke mulut saat kejang. Simpan kemasan, nama zat, perkiraan jumlah dan waktu untuk petugas, tetapi jangan mempertaruhkan keselamatan mencari bukti. Nalokson sementara sehingga bantuan medis tetap wajib.
Setelah selamat dan pencegahan
Rumah sakit dapat memantau jantung, napas, gula, organ dan memberi antidot spesifik seperti N-acetylcysteine. Overdosis sengaja memerlukan dukungan krisis tanpa menghakimi; overdosis tidak sengaja juga kesempatan meninjau obat dan penggunaan zat. Simpan obat terkunci, gunakan pill organizer, jangan berbagi resep, hindari campuran alkohol-sedatif-opioid, dan sediakan nalokson bila berisiko.
Informasi dalam artikel ini merujuk pada CDC — responding to a suspected overdose, CDC — naloxone for opioid overdose. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.



