Pemeriksaan setelah lahir menentukan derajat
Tenaga obstetri memeriksa vagina, perineum dan rektum dengan analgesia yang memadai agar cedera sfingter tidak terlewat. Robekan kecil mungkin sembuh tanpa jahitan; derajat 2 biasanya dijahit. Derajat 3–4 diperbaiki di ruang operasi oleh tenaga terlatih dengan anestesi, antibiotik dan rencana bowel care.
Nyeri harus berangsur membaik
Kompres dingin berbalut kain pada hari awal, paracetamol/ibuprofen bila aman, menjaga area bersih/kering dan mengganti pembalut sering membantu. Siram air saat berkemih bila perih dan keringkan dengan menepuk. Pelunak tinja, cairan dan serat mencegah mengejan, terutama setelah cedera sfingter; jangan menahan BAB karena takut jahitan lepas.
Pemulihan mencakup fungsi dasar panggul
Latihan dasar panggul dimulai sesuai arahan dan fisioterapi membantu nyeri, kelemahan atau inkontinensia. Hubungan seksual dilanjutkan bila luka pulih dan nyaman; pelumas serta kecepatan bertahap dapat membantu, tetapi nyeri menetap bukan sesuatu yang harus ditahan. Follow-up khusus menilai kontrol gas/tinja, urgensi, nyeri, penyembuhan dan rencana persalinan berikutnya.
Dampak emosional juga nyata
Robekan berat dapat menimbulkan rasa takut, malu, trauma persalinan atau gangguan relasi. Keluhan kontrol usus umum setelah cedera sfingter tetapi tetap perlu dilaporkan karena ada terapi. Debrief persalinan, psikolog, fisioterapis pelvic floor dan tim kolorektal/uroginekologi dapat terlibat. Keputusan persalinan berikutnya dibuat bersama berdasarkan gejala dan pemeriksaan.
Informasi dalam artikel ini merujuk pada ACOG — perineal laceration definitions, ACOG — postpartum pain management, RCOG — third- and fourth-degree tears. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.



