Beranda/Kesehatan Mental/Bulimia Nervosa

Kesehatan Mental

Bulimia Nervosa

Bulimia nervosa adalah gangguan makan dengan episode makan sangat banyak disertai rasa kehilangan kendali, kemudian perilaku kompensasi seperti muntah, puasa, olahraga berlebihan, atau penyalahgunaan obat. Berat badan dapat tampak biasa sehingga kondisi sering tidak terlihat.

SehatKita · kurasi berbantuan AIDiperbarui: 8 September 20263 menit

Disusun dengan bantuan Claude dari sumber web. Belum ditinjau oleh tenaga medis. Proses editorial

Ilustrasi editorial untuk artikel Bulimia Nervosa

Mengapa siklusnya terus berulang

Bulimia biasanya bukan berawal dari episode makan berlebihan, melainkan dari pembatasan makan yang ketat. Diet ketat atau melewatkan waktu makan memicu rasa lapar fisik sekaligus psikologis yang ekstrem, dan tubuh yang merasa "kekurangan" cenderung merespons dengan dorongan makan yang sulit dikendalikan — inilah episode makan berlebihan (binge).

Setelah binge, muncul rasa bersalah dan panik yang mendorong perilaku kompensasi seperti muntah atau olahraga berlebihan. Perilaku ini memberi kelegaan sesaat, tetapi diikuti rasa malu yang justru memperkuat pembatasan makan berikutnya — dan siklus dimulai lagi. Karena siklus ini melibatkan sistem dopamin (yang mengunci pola sebagai kebiasaan) dan diduga terkait fungsi serotonin yang terganggu, semakin sering siklus terjadi, semakin sulit diputus tanpa bantuan profesional.

Tanda yang mungkin

Makan diam-diam, pergi ke kamar mandi setelah makan, rasa malu berat, kekhawatiran bentuk tubuh, pembengkakan pipi (akibat kelenjar ludah membesar), sakit tenggorokan, gigi terkikis oleh asam lambung, siklus haid berubah, pusing, atau berat badan berfluktuasi dapat terjadi. Berat badan sering tampak normal atau bahkan berlebih, sehingga bulimia lebih sulit dikenali dibanding gangguan makan yang menyebabkan penurunan berat drastis.

Cari bantuan segeraPingsan, nyeri dada, jantung tidak teratur, lemah berat, kejang, muntah darah, tidak mampu minum, kebingungan, atau pikiran menyakiti diri membutuhkan layanan darurat.

Komplikasi medis

Muntah dan laksatif dapat menyebabkan dehidrasi serta gangguan kalium yang memicu irama jantung berbahaya — ini penyebab utama kematian mendadak pada bulimia jangka panjang, bukan efek langsung dari makan berlebihan itu sendiri. Refluks, robekan esofagus, kerusakan gigi permanen, gangguan ginjal, kejang, depresi, kecemasan, dan risiko bunuh diri juga perlu dinilai secara berkala.

Pengobatan

Terapi perilaku kognitif yang dirancang khusus untuk gangguan makan (CBT-E) adalah pengobatan lini pertama dengan bukti paling kuat, bekerja dengan membongkar keyakinan keliru tentang makanan, bentuk tubuh, dan harga diri yang menjaga siklus tetap berjalan. Pemantauan medis dan dukungan gizi terstruktur berjalan beriringan dengan terapi ini, bukan sebagai pengganti.

Fluoxetine adalah satu-satunya obat yang disetujui FDA khusus untuk bulimia, tetapi dosis efektifnya 60 mg per hari — tiga kali dosis umum untuk depresi (20 mg) — karena pada dosis rendah efeknya terhadap episode makan berlebihan tidak berbeda dari plasebo. Penelitian menunjukkan CBT-E dan fluoxetine dosis penuh memberikan hasil yang sebanding, sehingga pilihan dapat disesuaikan dengan ketersediaan terapis, preferensi, atau kondisi yang menyertai seperti depresi.

Cara membantu

Dengarkan tanpa mengomentari berat atau menyalahkan. Dorong pemeriksaan bersama dan tawarkan menemani. Jangan menyarankan diet, puasa, detoks, atau mengawasi makanan dengan ancaman — mengingat siklus bulimia sering dipicu justru oleh pembatasan makan, saran semacam ini berisiko memperberat, bukan meredakan, kondisinya.

Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada National Institute of Mental Health, PMC — pendekatan terapi bulimia nervosa, Psychopharmacology Institute — dosis fluoxetine. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.