Beranda/Tulang, Otot, dan Sendi/Cedera Sumsum Tulang Belakang

Saraf dan Tulang Belakang

Cedera Sumsum Tulang Belakang

Istilah yang tepat adalah cedera sumsum tulang belakang: kerusakan jaringan saraf di dalam tulang belakang akibat trauma atau penyakit. Dampaknya bergantung pada lokasi dan apakah cedera lengkap atau tidak lengkap.

SehatKita · kurasi berbantuan AIDiperbarui: 7 September 20262 menit

Disusun dengan bantuan Claude dari sumber web. Belum ditinjau oleh tenaga medis. Proses editorial

Ilustrasi editorial untuk artikel Cedera Sumsum Tulang Belakang

Tanda yang perlu dicurigai

Setelah jatuh, kecelakaan, benturan olahraga, atau kekerasan, curigai cedera bila ada nyeri leher atau punggung, kesemutan, mati rasa, kelemahan, kelumpuhan, sulit bernapas, atau hilang kendali kandung kemih dan usus. Gejala dapat muncul segera atau memburuk karena bengkak dan perdarahan.

Pertolongan di lokasi

Hubungi layanan darurat, minta korban tetap diam, dan stabilkan kepala tanpa menarik atau meluruskan paksa. Jangan memindahkan korban kecuali ada bahaya langsung. Bila harus membuka jalan napas, petugas terlatih meminimalkan gerak leher; gunakan CPR bila tidak bernapas sesuai pelatihan.

Jangan pindahkan korban sembaranganPanggil bantuan darurat segera bila cedera disertai nyeri leher atau punggung, kelemahan, mati rasa, kelumpuhan, gangguan napas, atau kehilangan kontrol buang air. Anggap tulang belakang tidak stabil sampai dinilai petugas.

Diagnosis dan terapi akut

Tim trauma menilai napas, sirkulasi, fungsi saraf, dan stabilitas tulang dengan CT atau MRI sesuai kebutuhan. Imobilisasi, operasi untuk kompresi atau ketidakstabilan, serta perawatan tekanan darah dan napas dipilih berdasarkan cedera. Steroid dosis tinggi bukan pengobatan rutin untuk semua pasien.

Rehabilitasi dan hidup jangka panjang

Rehabilitasi dimulai dini dan dapat melibatkan dokter rehabilitasi, fisioterapi, terapi okupasi, perawatan kandung kemih-usus, kulit, nyeri, fungsi seksual, alat bantu, dan dukungan psikologis. Pencegahan luka tekan, infeksi urine, bekuan darah, masalah napas, dan disrefleksia otonom tetap penting.

Mencari bantuan di IndonesiaSetelah fase akut, minta rujukan rehabilitasi medik dan penilaian alat bantu melalui rumah sakit rujukan JKN. Kebutuhan perawatan dapat berlanjut lama dan sebaiknya melibatkan keluarga sejak awal.
Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada WHO. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.